facebook twitter instagram pinterest cookpad linkedin

Shafiqa Ayyara

A Lifestyle Blog

  • Home
  • Thought
  • Reviews
    • Book
    • Food
    • Movie
    • Place
    • Application
  • Recipe
  • Contact

  



Menikah saat Pandemi Covid-19 menjadi ujian dari segala sisi. Mulai dari melatih kesabaran, meningkatkan rasa ikhlas, belajar untuk lebih realistis soal finansial, dan banyak ujian lain yang membuatku terus bertumbuh sepanjang mempersiapkan hari pernikahan. 

Mulanya, saat jadwal akad nikah kurang dari dua minggu lagi, semua persiapan sudah selesai dan hanya tinggal menunggu hari. Saat itu di Provinsi Aceh, pandemi Covid-19 belum terlalu marak dan tidak ada korban yang teridentifikasi. Di ibu kota sendiri—Jakarta, hanya beberapa kasus yang baru diketahui. Intinya saat itu keadaan masih aman dan berjalan seperti biasanya. Namun beberapa hari kemudian, muncul sebuah berita bahwa seorang masyarakat yang terkonfirmasi pasien Covid-19 meninggal dunia di RS Zainal Abidin Banda Aceh. Gemparlah seluruh kota bahkan hingga ke pelosok-pelosok desa. Semua kegiatan berkumpul dibubarkan oleh pemerintah, jam malam diberlakukan, militer juga ikut dikerahkan untuk mengawasi kebijakan PSBB, barangkali bisa diartikan sebagai lockdown dengan versi yang lebih ringan.

Keluargaku dan calon suami saat itu menjadi ragu untuk melanjutkan acara pernikahan yang jelas-jelas harus batal. Vendor katering tentu tidak mau bekerja dan melanggar peraturan, kami juga tidak ingin jika di tengah acara tiba-tiba harus dibubarkan. Setelah melalui diskusi panjang, kedua belah pihak memutuskan hanya mengadakan akad nikah sedang resepsi ditunda sampai keadaan menjadi lebih baik. Hari berjalan begitu cepat, banyak hal yang kami lewati, ujian-ujian pra-pernikahan yang datang silih berganti. 

Tapi alhamdulillah 'ala kulli haal, dengan izin Allah pada April 2020, saat Pandemi Covid-19 sedang bergejolak di Indonesia bahkan dunia, statusku berubah dari gadis karir menjadi ibu rumah tangga.  Tidak mudah menghadapi masa transisi perubahan status tersebut, banyak hal yang mendorongku harus beradaptasi dengan keadaan. Karena hal itu juga aku memutuskan untuk kembali menulis blog selain aktif menulis di sosial media.

"Sebab menulis adalah caraku melegakan diri."—@shafiqaayyara

Tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi ibu rumah tangga tidak semudah kelihatannya. Aku diharuskan untuk memiliki skill mengatur waktu, keuangan keluarga, gejolak emosi, dan masih banyak lagi yang tidak terpikirkan sama sekali saat masih single dulu. 

"Menulis adalah caraku meluapkan perasaan, meringankan beban pikiran."—@shafiqaayyara

Setelah menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga selama masa pandemi, beberapa hal yang menurutku sangat penting untuk dimiliki terutama bagi seorang perempuan yang sepakat untuk mengabdi di dalam rumah :

  1. Skill, apapun itu. Apakah memasak, menulis, berdagang, semua akan kita butuhkan. Bukan hanya tentang agar bisa menghasilkan uang, jauh daripada itu adalah agar kita tidak merasa bosan! Sebab sepengalamanku pribadi, ketika aku stuck di dalam rumah, sendirian saat suami bekerja, energi negatif akan mendatangiku yang tentu saja dampaknya akan sangat merugikan. Jadi, untuk para calon ibu rumah tangga, sharpen your skill, now!
  2. Berdamai dengan diri sendiri. Kedengarannya klise karena sudah sering kita dapatkan dari akun-akun motivasi di instagram. Tapi poin ini benar-benar harus kita miliki. Sebab akan ada masanya kita merasa tidak produktif, tidak berpenghasilan, merasa tidak berdaya, membandingkan diri dengan orang lain dan merasa marah pada diri yang sekarang. Poin ini sangat penting, sebab ketika kita berdamai dengan segala kekurangan yang ada dalam diri, kita bisa menerima keadaan kita bagaimanapun adanya. Kita juga jadi semakin lebih mudah mencintai diri sendiri. Moms! Ayo loving your self first, agar kita bisa lebih bahagia dalam mencintai keluarga.
  3. Komunikasi, baik dengan pasangan juga kedua keluarga kita. Ini adalah poin penting untuk mengurangi konflik dalam rumah tangga. Dan akan menjadi pe-er seumur hidup sepertinya, he-he.
  4. Mengatur keuangan. Ini dalah poin yang sampai lebih setahun pernikahan, aku belum lulus sama sekali. Sejujurnya sebelum menikah, aku adalah tipe perempuan yang sangat boros, terlebih soal makanan. Jadi ingin mengulang sebuah status whatsapp teman, "Ya Allah, aku suka jajan, suka makan. Tolong mudahkan rezekiku." 
  5. Hidup sehat. Poin penting lainnya untuk yang berkeinginan langsung diberi momongan setelah menikah. Aku pernah memiliki riwayat keguguran saat hamil pertama kali, tidak tahu penyebabnya apa, dokter hanya mengatakan bahwa kejadian itu wajar dialami beberapa pasangan. Hingga saat ini kami masih berikhtiar untuk Allah percayakan diberi amanah. Salah satunya dengan mengurangi makanan tidak sehat. Semoga untuk para pejuang garis dua di luar sana, Allah berikan ketabahan dan kesabaran yang berlimpah!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

NOTES :

1.     Review ini nggak akan menampilkan gambar hasil pemakaian before & after.
2.     Review ini murni pendapatku selaku konsumen dengan kulit wajah berminyak.
3.     Review berdasarkan pendapat pribadi yang masih awam soal kosmetik atau skincare.
4.     Review ini dibuat dengan niat untuk mengajak teman-teman per-skincare-an untuk mulai peduli dengan kehalalan produk yang kita gunakan. Sebab wajah dan seluruh bagian diri kita adalah kepunyaan Allah yang  dititipkan kepada kita. Masa kita mau merawatnya dengan bahan-bahan yang nggak Allah ridhai? Jangan :') 


Sebelum tahu produk ini masuk ke Indonesia, aku udah sering lihat di media sosial Malaysia. Tertarik, soalnya produk ini mengusung tagline 'Halal' dan juga mengandung Habbatussauda, bahan alami yang dikenal baik untuk kesehatan. Tapi karena aku nggak pernah purchase barang luar negeri, jadi nggak terlalu berniat untuk cari tahu lebih lanjut. September 2018 saat sedang jalan-jalan aku mampir di sebuah drugstore untuk cari facial wash yang udah habis dan ternyata di salah satu raknya aku menemukan Safi! Bayangin bahagianya sampai gimana. Kenapa aku bisa nggak tahu padahal udah banyak banget beauty influencer yang ngereview produk ini. Saat itu tanpa keraguan apapun aku memutuskan untuk hijrah ke Safi White Expert Series, karena menurutku varian ini cocok untuk jenis kulit dan usiaku (juga dompet wkwk). Soal harga, untuk yang se-finansial denganku, Safi ini termasuk sedikit lebih mahal dibanding produk lokal yang komersial.

Setelah lebih dari setahun pemakaian, aku nggak kepikiran buat bikin review sampai rame teman-teman yang penasaran sama pendapatku karena setia banget sama Safi. Sedikit gambaran, kulitku ini kusam dan berminyak, kalau udah berminyak parah mukaku akan gampang nempel kotoran dan jadinya mudah berjerawat. Sekali jerawat juga nggak remeh, bisa gede walau cuma satu dan sakitnya Subhanallah. Kalau yang baca ini teman kuliah, coba deh throwback lagi saat kalian tanya, "Cut itu di dagu bisul apa jerawat?" 🤣 Alhamdulillah selama pemakaian Safi jadi lebih bersih dan jarang banget disamperin jerawat. Soal cerah aku nggak bisa banyak komentar, karena kulitku ini warnanya sawo matang. Jadi kalau level cerah yang dimaksud itu adalah putih bening berkilat ya nggak bakalan terjadi wkwk. Tapi beberapa pendapat bilang kalau wajahku jadi lebih fresh dan cerah (sebagaimana ia mampu~). 

Selama setahun ini aku pakai 10 produk Safi White Expert Series dengan beberapa produk yang sudah aku purchase berulang kali. Aku nggak akan jelasin lagi ingredients-nya. Kalian bisa langsung baca di website official mereka www.safiindonesia.com.

1. Safi White Expert Purifying Cleanser



Ini adalah salah satu facial wash yang wanginya aku suka banget. Sebenarnya nilai plus dari safi ini juga wanginya yang nyaman dan menenangkan. Soal kemasan dan tekstur sama kayak facial wash pada umumnya, so aku nggak mau banyak komentar soal produk ini karena sekarang juga udah nggak pakai lagi. Aku udah terlanjur jatuh cinta sama teman dia. Minus selama pakai ini aku kurang nyaman setelah cuci muka karena rasanya agak keset, jadi kering. Padahal produknya mengklaim menjaga kelembaban kulit, tapi yah di kulitku mungkin nggak cocok kali ya. Kalau soal membersihkan ini termasuk juara loh, tapi aku nggak bisa jamin untuk yang sering makeup berat, soalnya di aku pribadi bersih pakai ini.

Kelebihan    : Membersihkan dan mencerahkan wajah. 
Kekurangan : Membuat wajah kering. 
Harga           : Rp 35.000,-

2. Safi White Expert 2 in 1 Cleanser & Toner



Purifying Cleanser

Nah ini dia produk yang bikin aku jatuh cinta banget..nget..nget. Ini satu-satunya facial wash-ku saat ini yang lovable banget dibanding sebelum-sebelumnya. Aku nggak tahu alasan Safi ngeluarin dua jenis sabun muka, tapi mungkin ini versi yang lebih mahalnya kali ya. Wajar sih karena selain cleanser dia juga berperan sebagai toner yang juga bisa menutrisi kulit. Soal kemasan aku suka banget karena bentuknya pump jadi kesannya lebih bersih dan exclusive dibandingkan kemasan tube. Cuma akibatnya produk ini jadi nggak travel friendly karena butuh space yang besar. Dan kalian harus hati-hati banget, waktu tekan pumpnya jangan ngegas ntar keluarnya banyak dan gagal hemat kita haha. Nilai plus lainnya dari aku adalah kandungan mentholnya yang bikin adeem banget di kulit. Terus busa yang dihasilkan juga nggak banyak kayak sabun biasa. Setelah cuci muka kulitku juga terasa lebih lembab dan nggak terkesan keset atau kering.
Anti Acne

Sekarang aku ganti produk dengan varian Anti Acne karena jerawat sering banget mampir akhir-akhir ini. Sensasi yang disuguhin kedua sabun ini sama aja nggak ada beda selain warnanya. Tapi secara nggak bisa aku jelaskan, Alhamdulillah jerawatku mulai berkurang. Jadi mungkin untuk sementara aku bakal pakai dia dulu. Untuk harga rasanya cukup sesuai ya, dia dibanderol seharga 54k, kalau hemat-hemat pakai sehari 3x bisa tahan 2 sampai 3 bulan.

Kelebihan    : Mengandung menthol yang bikin adem. 
                       Kulit jadi bersih dan lembab.
Kekurangan : Kemasan tidak travel friendly. 
Harga           : 54.000,- (Purifying) & 59.000,- (Anti Acne)

3. Safi White Expert Deep Exfoliator


Salam kenal dari produk tercinta manusia berkomedo dengan kantong pas-pasan. Scrub ini tuh paling pengertian, harga standar isi banyak. Aku setahun nggak habis-habis pakainya wkwk. Tapi mungkin karena aku jarang gunain kali ya, bagusnya sih untuk pemakaian 2 atau 3 kali seminggu, tapi aku pakainya biasa seminggu atau 2 minggu sekali. Ini namanya level hemat tingkat dewa haha. Tekstur scrub ini nggak terlalu kasar dan isinya padat banget. Aku yang lemah ini harus pakai tenaga ekstra buat mencet dia biar keluar. Tapi setelah itu enak saat diaplikasiin ke muka, dengan harumnya yang juga wangi jadi bikin nyaman saat mijat muka. Hasilnya sih menurut aku nggak terlalu wow, memang setelah pakai ini muka jadi halus dan lembut banget. Komedo kasar di sekitar hidung nggak terlalu timbul lagi. Tapi efeknya nggak lama, sehari dua hari kemudian udah kembali seperti semula. Jadi mungkin aku akan repurchase saat butuh. Lumayan loh harganya 47k.

Kelebihan : Menghilangkan komedo. 
                    Wajah lebih halus dan lembut. 
Harga        : 47.000,-

4. Safi White Expert Skin Refiner


Skin refiner ini mirip seperti toner. Bentuknya cair, saat diaplikasikan ke muka dengan kapas rasanya segar dan wangi. Awalnya muka agak lengket, tapi nggak lama langsung nyerap dan buat mukaku lembab. Rasanya klaim Safi Skin Refiner yang mampu meringkas pori-pori ini terbukti. Well, untuk harga 49.000 rupiah aku nggak menyesal pakai ini karena mukaku jadi lebih lembab dan halus banget. Muka juga lebih nyaman untuk nerima step selanjutnya. Kayaknya kalau habis bakal aku beli lagi.

Kelebihan : Mengecilkan pori-pori
                    Membuat wajah lebih halus dan segar. 
Harga        : 49.000,-

5. Safi White Expert Ultimate Essence


Jujur aja aku masih bingung beda essence dan serum itu apa. Tapi 'katanya' essence adalah serum dengan kandungan yang lebih ringan. Sebelum pakai produk ini aku juga pakai serum dari produk lain. Alhamdulillah kekusaman wajah selama remaja terobati saat itu. Sekarang karena aku fokusnya menjaga agar tidak kembali kusam, pakai Safi Ultimate essence buatku harus win win solution. Jadi kalau ditanya soal repurchase, aku akan beli lagi saat (benar-benar) butuh.

Kelebihan : Mencerahkan wajah. 
                    Melembutkan dan menyejukkan kulit. 
Harga        : Rp 79.000

6. Safi White Expert Anti Acne Cream

Aku beli ini karena putus asa dikunjungi jerawat terus menerus. Jujur aja mukaku ini jarang berjerawat kecuali lagi nggak keurus atau rutinitasnya tiap bulan. Tapi akhir-akhir ini jerawat semakin merajalela. Saat coba krim ini Alhamdulillah cocok dan dua minggu pemakaian jerawat nggak hadir sama sekali. Buatku harga 46k worth it-lah dibanding harus menanggung derita perih dan nyut-nyutan karena jerawat. 

Kelebihan : Menghilangkan dan mengurangi noda bekas jerawat.
Harga        : Rp 46.000, - 

7. Safi White Expert Illuminating Day Cream SPF 15PA++


Aku amazed banget lihat kemasannya yang kelihatan mewah dibanding produk lain. Sampai pas awal-awal beli aku nyari yang versi tubenya manatau lebih murah haha. Kemasannya itu terbuat dari botol kaca berbentuk kubus dengan tekstur isinya berbentuk krim berwarna putih. Sayangnya pas ngambil kita harus nyolek pakai tangan, jadi teman-teman kalo baru selesai megang apa gitu tolong dicuci dulu biar tangannya bersih dan mukanya nggak berjerawat yaa :))

Aku mau ngeshare pengalaman deh. Jadi pernah waktu itu aku kehabisan krim ini tapi nggak mau beli dulu karena aku dapat bonus krim siang juga tapi produk lain, aku berniat habisin yang bonus itu dulu. Setelah kurang lebih sebulan nggak pakai ini dengan segala aktifitas outdoor, mukaku menggelap seketika. Jadi ya memang krim ini buatku bisa mencerahkan dan nggak bikin kulit belang terus kasar kayak bersisik. Pengalaman sebulan itu membuatku kembali lagi ke krim ini.

Kelebihan : Melindungi kulit dari sinar matahari. 
                    Mencerahkan dan membuat kulit lebih halus.
Harga        : Rp 48.000,-

8. Safi White Expert Replenishing Night Cream


Bentuk sama dengan day cream, tekturnya lebih kayak gel(?) dan wangi banget. Waktu diaplikasikan ke muka rasanya adem dan lembab. Agak lengket sih tapi buatku nggak masalah. Dan lembabnya itu tahan sampai cuci muka besok pagi. Setelah itu muka rasanya halus dan lembut banget. Kalau soal efek cerah aku nggak begitu perhatian. Soalnya makin kemari rasanya lebih butuh yang bikin nyaman deh, hiyahiyahiya~ Tapi dengan pakai serangkaian produk Safi ini aja menurutku sudah bisa menjaga kulit agar nggak kusam. 

Kelebihan : Menyejukkan dan melembabkan kulit sepanjang malam.
Harga        : 48.000,-

9. Safi White Expert Purifying Makeup Remover


Ini merek makeup remover-ku yang kedua. Aku nggak bakal banyak komentar soal produk ini selain dia menjalankan tugasnya dengan cukup baik. Daily makeupku itu cuma day cream, bedak tabur dan lipstik. Mungkin paling sulit bersihin lipstiknya karena aku pakai yang waterproof. Remover ini sangat membantu karena mudah banget hilangin bekas lipstik sampai bersih. 

Kelebihan : Membersihkan bekas makeup dengan mudah dan cepat.
Harga        : 45.000,-

10. Safi White Expert CC Cream SPF 24PA++


Aku-suka-banget. Untuk orang yang nggak suka makeup kayak aku, CC Cream ini berguna saat acara kondangan atau event formal yang membutuhkan look beda dari biasanya. Teksturnya creamy kayak fondie tapi nggak berat, kebayang nggak? Dan warnanya itu cocok banget sama kulit aku, nggak terlalu terang, nggak gelap juga yang kadang bikin horror kalau pakai foundation. Jadi pakai ini tuh rasanya cerah alami tsah~ Tapi ada minusnya, karena tekstur yang creamy tadi jadi kurang nyaman aja dipakai keluar. Biasanya aku akan timpa lagi dengan bedak tabur kesayanganku supaya dia lebih terkesan smooth~ Soal tahannya aku nggak bisa jamin sih, soalnya paling lama aku pakai cuma beberapa jam aja. So far bolehlah untuk makeup abal-abal dari seorang yang nggak bisa makeup-an.

Harga        : 79.000,-


Oke sista kita sampai di penghujung review Safi White Expert Series ala aku. Overall aku puas banget sama produk ini yang sesuai dengan tiap-tiap segi diriku, mulai dari kulit wajah hingga isi dompet wkwk. Untuk hasil pemakaian selama setahun ini Alhamdulillah bisa mempertahankan wajahku untuk nggak kembali kusam, dapet komentar dari orang-orang yg ditemui, "Eh kok makin putih. Halus banget kayak kulit bayi. Nggak percaya 24 tahun, mukanya kayak baru lulus SMA. Kok kayaknya kamu nggak pernah berjerawat sih? (Dia nggak tahu kalau aku sekali berjerawat macam bisul sakitnya)" Eh, komentar-komentar itu bukan fiktif ya, memang ada yang bilang gitu sama aku 😂 Karena aku nggak bisa kasih penilaian untuk perubahan yang terlihat, jadi aku cantumin aja pendapat orang saat lihat aku dulu dan sekarang. Semoga aja jujur dan nggak sekedar basa-basi #ehem. 

Sekali lagi aku akan ngajak teman-teman semua untuk beralih ke produk skincare yang halal. Ada banyak loh di Indonesia ini produk halal yang juga bagus. Untuk cek halal atau nggaknya kalian bisa lihat logo halal di kemasannya atau cari di halalmui.org ntar akan muncul tampilan seperti di bawah ini.



Yuk kita hijrah ke skincare yang halal biar hati lebih adem saat menggunakannya dan wajah cerah kita di dunia juga bisa bersinar di akhirat. Aamiin ~
Btw, karena ini makeup review pertamaku jadi masih newbie banget rasanya. Tolong tinggalin masukan di kolom komentar ya. Terima kasih~
#HalalisMyWay #BuyHalalFirst 

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar


          Assalamu'alaikum.

Hai, Shoppers!

Gimana nih puasa pertama kamu?
Saat menyambut bulan puasa, banyak yang harus kita persiapkan seperti ibadah, kesehatan, dan finansial. Loh, emang harus ya?

Tentu saja. Karena tujuan utama kita di Bulan Suci Ramadhan ini adalah meraup pahala sebanyak-banyaknya dengan rajin-rajin beribadah. Apalagi dengan kondisi tubuh yang tidak biasa (harus menahan haus dan lapar hampir seharian), otomatis kita juga harus menjaga kesehatan.

Terus apa kaitannya dengan finasial?

Mau tidak mau, soalan finansial akan selalu membayangi jejak-jejak hidup kita.
Saat Ramadhan seperti sekarang, terlebih libur sekolah, orang-orang pasti berpikir bahwa pengeluaran akan semakin berkurang. Faktanya menurut ulasan beberapa situs online terkait survey yang mereka lakukan, pengeluaran masyarakat baik yang masih lajang ataupun yang sudah berkeluarga malah semakin meningkat. Ada banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut seperti buka puasa bersama yang tentu saja sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Indonesia. Selain itu persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri yang identik dengan penampilan baru membuat jiwa konsumtif masyarakat mulai bergejolak untuk membeli pakaian baru, sepatu, dan lain-lain.

Jadi, bagaimana caranya agar semua bisa kita dapatkan tapi tetap hemat dan juga berkah?

Nah, Ramadhan kali ini salah satu perusahaan e-commerce, Shopee, mengadakan program #BigRamadhanSale dengan berbagai fitur menarik yang pastinya membuat kita bisa belanja dengan hemat sambil hunting pahala, loh! Ada diskon besar-besaran hingga 90%! Kita juga bisa mendapatkan cashback hingga 750.000 rupiah serta voucher gratis ongkir. Selain itu kita juga berkesempatan mendapatkan koin Shopee senilai total 10 Miliar melalui Super Goyang Day dan Kuis Shopee Day. Ups, tahan dulu senangnya. Masih ada program menarik lain yaitu Serba 10 Ribu, dimana kita berkesempatan mendapat hadiah Ibadah Umroh jika beruntung. 

Shopee juga memberi kesempatan kepada kita untuk memberi zakat dan berdonasi kepada sesama. bahkan Shopee telah bekerja sama dengan Badan Amil Zakat (Baznas) selaku exclusive donation partner. Kamu bisa cek di sini untuk infonya.

Benar kan, selain belanja hemat dan meraih banyak keuntungan, kita juga bisa mengumpukan pahala melalui aplikasi Shopee. Jadi tunggu apalagi, ayo download Shopee sekarang!







Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
            Bener Meriah dengan julukannya Negeri di Atas Awan benarlah sebuah kota yang berada di tengah – tengah pegunungan. Pertama kali menginjakkan kaki di dataran tinggi Gayo ini, yang terlintas di benak saya adalah, daerah ini tidak sedingin gosipnya. Mungkin disebabkan daerah penempatan kami, Kecamatan Pintu Rime Gayo, masih berbatasan dengan Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Jika siang hari, suhu di daerah ini masih berkisar antara 22-24 derajat celsius. Usai acara penyambutan di kantor camat, kami menempuh perjalanan setengah jam lagi ke atas untuk sampai di desa yang sebulan ke depan akan menjadi rumah kami, Blang Ara.
Desa Blang Ara terletak di jalan lintas Bireuen – Takengon KM 58 dengan pusat kampung berada sedikit di atas bukit. Jika kita berangkat dari Banda Aceh, akan membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam untuk sampai ke desa ini. Mayoritas penduduk di desa ini adalah petani kopi, jadi jangan heran apabila sampai di sana, pohon kopi sudah seperti tanaman hias yang memenuhi pekarangan rumah warga. Letak desa yang berada di atas bukit membuat kita harus sedikit mendaki saat berjalan naik. Bahkan jika turun, kebanyakan masyarakat akan mematikan mesin motor lalu meluncur dari atas. Walaupun begitu, kebiasaan tersebut tidak membuat mereka lupa menyapa atau sekedar senyum saat berpapasan dengan orang di jalan.
Desa ini memiliki satu jalan utama yang sebagian di aspal kasar dan sebagian lagi di semen. Di sekeliling jalan kita bisa melihat banyak sekali tumbuh-tumbuhan liar yang memenuhi badan jalan. Mulai dari bunga-bunga cantik hingga semak belukar yang tertata rapi. Jika tidak karena lelah mendaki, saya pasti lebih memilih untuk jalan menyusuri desa sambil menikmati pemandangan. Di desa ini kita bisa melihat bunga dan tumbuhan yang tidak pernah kita lihat di daerah pesisir.
            Selain itu, desa ini juga terkenal dengan hasil pertaniannya yaitu buah alpukat dan durian. Sebagian besar alpukat di desa ini sudah dipesan oleh para pembeli jauh sebelum hari panen. “Sekarang susah kita menikmati alpukat matang, karena sebelum matang para pembeli sudah datang untuk memetik alpukat.” ungkap salah satu warga.
Sehari-hari Blang Ara adalah desa yang cukup sunyi, warga lebih banyak beraktivitas di kebun. Namun ada satu hari dimana semua warga berkumpul, hari Jumat. Pada hari ini ibu-ibu akan menghadiri pengajian rutin sedang bapak-bapak akan melakukan gotong royong. Banyak kegiatan pembangunan yang sedang berjalan di desa ini dan sebagian besar dikerjakan langsung oleh warga desa seperti pembuatan drainase, renovasi masjid, dan bak air penampungan.
Sumber air di Desa Blang Ara berasal dari mata air pegunungan, di tampung pada sebuah bak penampungan besar yang terletak tidak jauh dari sumbernya. Kemudian air tersebut di alirkan ke sebuah bak kecil yang terletak di tengah desa sebelum kemudian di alirkan ke rumah masing-masing warga menggunakan pipa. Karena langsung berasal dari gunung, air di daerah tersebut sangat jernih, sejuk dan segar.

Desa Blang Ara, salah satu desa di Kabupaten Bener Meriah. Sebuah desa yang masih sangat terjaga keindahan alamnya. Di sana kita disajikan dengan berbagai macam kekayaan alam yang kini perlahan hilang termakan  zaman. Sebulan di sana, saya bisa merasakan keindahan alam sebagai bukti kuasa Tuhan.

April, 24 2017
Telah diposting di www.acehraya.com
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Ini bukan kali pertama kami menginjakkan kaki ke Desa Blang Ara, tapi ini akan menjadi hari pertama dari total 30 hari pengabdian yang akan kami habiskan di sini. Seseorang pernah berkata kepada saya, “Sejatinya hidup adalah sebuah pengabdian. Mengabdi kepada Allah, orangtua, suami, dan hal lain yang kita cintai, salah satunya negeri.” Itulah semangat yang kami bawa, mari mengabdi, memperbaiki negeri. Bermodalkan niat mengabdi dan dua motor untuk 7 orang, kami menempuh jarak kurang lebih 2 km dari tempat tinggal untuk sampai ke desa. Desa sehangat mentari.
“Sepi ya.” ucap Winda. “Iya, sejauh mata memandang tidak ada orang sama sekali.” sahutku. Kami naik lebih atas, ya posisi desa ini menanjak dengan jalan semennya yang penuh pasir. Di sekitar jalan tampak pohon-pohon kopi yang mengiringi langkah kami. Sesekali tampak pohon markisa dan pohon alpukat menyapa. Desa ini terkenal dengan kekayaan hasil kebun berupa kopi, markisa, dan alpukat. Tidak ayal ketika pulang nanti masing-masing dari kami akan menyandang gelar ‘Juragan Alpukat’. Tapi faktanya anugrah itu tidak hanya ada di desa kami. hampir seluruh desa di Kabupaten Bener Meriah memiliki hal yang sama, tanah subur yang ditumbuhi aneka buah-buahan. Kopi, salah satu yang paling terkenal di daerah itu.
“Orang-orang di sini mayoritas bekerja sebagai pekebun, Dek. Jadi ya begini, sehari-hari desa sangat sepi.” ujar banta, atau istilah resminya sekretaris desa. Kami hanya saling pandang dan mengangguk sambil menyambut prasangka, ini akan menjadi 30 hari pengabdian yang sulit. Menjalankan program di desa tanpa warga? Yang benar saja, pikir saya.
Ternyata prasangka kami salah. Jumat minggu kedua kami ikut menghadiri pengajian rutin ibu-ibu di Balai Pengajian yang terletak di halaman mesjid. Kebetulan pula hari itu diadakan gotong royong mingguan. Jadilah para wanita mengikuti pengajian sedang lelaki gotong royong bersama bapak-bapak. Tema kajian hari itu adalah tentang tauhid. Semua warga yang hadir serius mendengarkan materi yang disampaikan oleh ustadz yang ternyata langsung datang dari kecamatan. Usai kajian barulah kami yang sedari tadi duduk, dipersilahkan untuk memperkenalkan diri. Hari itu desa yang biasa sepi sangat ramai. Dan hari itu pula istilah ‘Desa Sehangat Mentari’ muncul. Ya, warga desa yang sibuk itu sangat ramah. Sambutan mereka kepada kami menepis hawa dingin 19 derajat celsius. Ragam pertanyaan terkait program menunjukkan antusiasme masyarakat atasnya.
Ketika satu persatu kami memperkenalkan diri dan program yang akan kami jalankan, mereka begitu antusias. Saya teringat salah satu ucapan Ibu Reje yang membuat kami sangat bahagia dan bangga, “Selagi adik-adik mahasiswa berada di sini, kita harus banyak-banyak belajar dari mereka. Mereka mendapat ilmu itu di bangku kuliah selama hampir 4 tahun. Kita seharusnya bangga mereka membagikan ilmu tersebut kepada kita. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan ini.” kami merasa terharu dan berharap bisa memenuhi harapan mereka. Ketika dipersilahkan mengucapkan beberapa kata, saya hanya bisa berkata, “Terima kasih sebesar-besarnya atas sambutan hangat yang membuat terharu, kami sangat bahagia. Harapan kami sederhana, setidaknya ketika nanti kami pulang ada sesuatu yang kami tinggalkan dan bermanfaat bagi desa.” ucap saya.
Hari demi hari terlewati hingga hari ke-30 tinggal beberapa jam lagi. Kami sedang mempersiapkan perpisahaan yang cukup dadakan namun terasa berkesan, karena di hari itu, hari yang senyatanya bukan hari libur, desa terutama Posko KKN kami ramai dihadiri warga. Kami tidak menyangka ditengah kesibukan menjalankan kewajiban sebagai pekebun, warga tetap datang ke acara perpisahan, membawa senyum haru yang akan menjadi kenangan tak terlupakan. “Terima kasih untuk adik-adik semua yang sudah membawakan banyak perubahan bagi desa kami. Seperti PAUD yang semakin cantik, anak-anak yang semakin aktif. Mereka sangat semangat untuk datang ke sini belajar dengan kalian.” ujar banta. Di lain sisi Ibu Imam pun ikut memberi kata-kata perpisahan dengan deru air mata yang membuat terharu seisi ruangan. Saya juga ikut menangis karenanya. Saya teringat pernah membaca sebuah kutipan indah, “Tuhan menciptakan perpisahan agar kita bisa memaknai sebuah pertemuan.” Dan di sini pertemuan kami menjadi sangat berarti.
Di Desa Blang Ara, desa sehangat mentari. Tempatnya dingin, kadang bisa mencapai suhu 17 derajat celsius dan untuk suhu terpanas 21 derajat celsius. Jika sedang hujan, seluruh tempat tertutupi kabut. Sehari-harinya sepi, seperti biasa. Namun warganya begitu hangat, ramah, dan menghargai sesama.
April, 24 2017
Tulisan pengalaman di webblog KKN
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

Shafiqa Ayyara


Personal Blogger | Author | Indonesia
Cooking | Writing | Programming
Books | Movies | Noodles

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  July 2021 (1)
      • Pengalaman Menikah di Masa Pandemi
  • ►  2019 (2)
    • ►  December 2019 (1)
    • ►  May 2019 (1)
  • ►  2017 (2)
    • ►  April 2017 (2)
  • ►  2016 (4)
    • ►  July 2016 (1)
    • ►  March 2016 (1)
    • ►  February 2016 (2)

Social Media

  • facebook
  • twitter
  • pinterest
  • instagram
  • linkedin
  • cookpad

Labels

Artikel Chemical Engineering Opini Place Review thought

Friends

Visitor

Created with by BeautyTemplates | Distributed by Blogger