2.1.2.a Pretreatment Plant
Bagian ini merupakan proses awal pengolahan air sebelum dipompa ke desalination plant. Air laut dari water intake dipompa oleh sea water reinforce pump menuju sediment pond, kemudian disini akan diinjeksi 3 (tiga) jenis bahan kimia, yaitu :
1. Koagulan (N 3276) yang berfungsi untuk membentuk padatan-padatan-padatan tersuspensi yang tidak dapat mengendap.
2. Flokulan (N 9901) berfungsi untuk menggabungkan padatan-padatan tersuspensi yang terbentuk sebelumnya menjadi partikel yang lebih besar berupa flok-flok yang dapat mengendap dengan sendirinya.
3. Klorin (N 3935) berfungsi untuk melemahkan bakteri-bakteri yang terdapat di air laut.
Kemudian air keluaran sediment pond dialirkan ke gravity air scrubbing filter sedangkan endapannya dibuang ke drainase bersama limbah dari proses pretreatment lainnya. Gravity air scrubbing filter memiliki media filter berupa absorben untuk menyaring kotoran-kotoran yang masih tersisa dalam air keluaran sediment pond, produk dari tangki ini masih berupa air laut yang kemudian dialirkan ke sea water tank untuk penyimpanan sementara sebelum kemudian dipompa menggunakan sea water booster pump ke desalination plant.
2.1.2.b Desalination Plant
Bagian ini bertugas untuk mengubah air laut menjadi air tawar. Air dari sea water tank dipompa oleh booster pump menuju multi media filter yang berfungsi untuk menyaring air dari kotoran-kotoran dan klorin, pada tangki ini ada 2 (dua) injeksi, yaitu :
1. Anti Scale (PC 191 T) yang berfungsi untuk mencegah terbentuknya kerak pada RO.
2. Reducer (N 47027) berfungsi untuk mengurangi kadar klorin dalam air dengan konsentrasi klorin yang diijinkan tidak melebihi 0.02 ppm.
3. HCl berfungsi untuk menurunkan pH air jika diatas 8,5. HCl diinjeksi hingga pH air dalam batasan 7-8,5.
Setelah disaring pada multi media filter, air dialirkan ke catridge filter sebelum kemudian di pompa dengan HP Pump dengan pemberian tekanan sekitar 3.5-4 MPa menuju Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) yang berfungsi untuk menurunkan nilai konduktivitas air (air laut memiliki konduktivitas sekitar 45000 ms/cm) menjadi kurang dari 500 ms/cm. Konduktivitas adalah sebuah ukuran untuk menghitung padatan yang terlarut dalam air. Kebanyakan public water supplies menggunakan faktor konversi untuk menghitung konduktivitas 1,55 ms/cm setara dengan mg/L dari total padatan terlarut (Flynn, 2009). Nilai konduktivitas tersebut berpengaruh pada kadar garam yang terkandung di dalam air, semakin tinggi konduktivitasnya, maka semakin banyak garam yang terkandung di dalam air.
Keluaran SWRO ditampung pada break tank kemudian dipompa oleh feed pump, air tersebut akan melewati cartridge filter untuk menjalani penyaringan dan dipompa lagi oleh HP Pump dengan pemberian tekanan tinggi sekitar 1.3-1.45 MPa untuk melewati Break Water Reverse Osmosis (BWRO) dan produk yang dihasilkan memiliki konduktivitas sekitar 5 ms/cm ditampung di raw tank sedangkan reject yang tertahan berupa air laut yang memiliki konduktivitas dua kali dari inlet, dialirkan ke shippon well sebelum dibuang kembali ke laut.
2.1.2.c Demineralized Plant
Bagian ini merupakan tempat pengolahan air baku menjadi air demin. Air dari raw tank dipompa menggunakan supply pump menuju mixed bed ion exchanger untuk menghilangkan kontaminan-kontaminan yang terkandung di dalam air, pada proses ini dilewatkan resin kation dan anion yang berfungsi untuk menangkap kontaminan yang ada didalam air tersebut hingga menghasilkan air demin murni dengan konduktivitas air keluarannya di bawah 0.2 ms/cm, pH berkisar antara 6-9 dan silika 0.02 ppm. Setelah itu output dari mixbed exchanger ditampung pada tangki demin untuk dikirimkan ke unit boiler.
2.1.2.d Waste Water Treatment Plant
Limbah dari demineralization plant ditampung pada waste water pond untuk diolah kembali sebelum dibuang ke laut. Pertama air dari waste water pond di pompa ke tangki netralisasi untuk menetralisasi pH limbah sesuai dengan yang diizinkan yaitu 6-8. Kemudian dialirkan ke tangki reaksi dan ditambah koagulan sebelum kemudian dimelewati tangki flukolan dan terakhir clarifier untuk mengendapkan kotoran-kotoran yang sudah menggumpal. Lalu air dari clarifier dibawa ke bak penampungan dan di cek pH-nya, jika pH tidak mencapai sasaran, maka harus diproses ulang hingga mencapai pH yang diinginkan baru kemudian air tersebut dibuang ke laut.
Nagan Raya, 15,18-19 Juli 2016
Survey dan pengenalan area WTP
Updated, August, 1 2016





