Ampas Kopi Bisa Mengurangi Dampak Global Warming

by - February 29, 2016

         

         Isu perbincangan dunia saat ini adalah bagaimana mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang menyebabkan emisi rumah kaca dan isu keamanan energi. Hal ini menyebabkan timbulnya ketertarikan untuk menggunakan energi bebasis biomassa(R.C.Saxena, D.K. Adikhari, H.B.Goyal, 2009). Alternatfinya, sumber energi yang dapat diperbarui (reneweble energy source) yang bersumber dari biomassa, menyerap karbon dioksida CO2 yang dihasilkan tanaman selama pertumbuhannya dan berkontribusi dalam pemanasan global (global warming) menjadi pilihan. Sehingga menjadi perbincangan bagaimana menghasilkan energi dari biomassa tanpa mengganggu pasokan makanan yaitu menggunakan limbah biomassa produk, khususnya dari industri makanan dan minuman, menjadi salah satu solusinya.

Kopi adalah jenis minuman yang penting bagi sebagian besar masyarakat di seluruh dunia. Bukan hanya karena kenikmatan konsumen peminum kopi namun juga karena nilai ekonomis bagi negara-negara yang memproduksi dan mengekspor biji kopi (seperti Indonesia). Bagi beberapa orang produk ini, dibuat dari biji tanaman kopi yang dipanggang (tanaman berbunga dari famili Rubiaceae), disebut sebagai “komoditi kedua yang paling banyak diperdagangkan secara legal” dalam sejarah manusia.

Waste coffee ground (WCG) merupakan salah satu potensi sumber daya yang berlimpah yang dapat dikonversi menjadi energi. Kosumsi kopi dunia yang terus meningkat selama beberapa dekade terakhir , mencapai kosumsi tahunan 8.8 juta metrik ton dan menjadi menyebabkan sebagian besar organik(USDA, 2014). Telah banyak usaha yang dilakukan untuk pengolahan limbah kopi, namun kebanyakan usahanya berakhir pada pembuangan limbah ataupun hingga akhirnya dibakar. Biomassa berdasarkan bahan bakar karbon dapat dikategorikan oleh beberapa metode pengolahan : i. Bahan bakar sebagai karbonasi biomassa( fuel as carbonized biomassa) ,  ii bahan bakar  sebagai gasifikasi biomassa (fuel as gasified biomassa), dan iii bahan bakar biomassa tidak diolah ( fuel as utreated biomassa) .


Ampas Kopi
Ampas Kopi

Produksi biji kopi di Indonesia diperkirakan memperoleh 2,2 juta kantong ke rekor 11,0 juta pada cuaca yang menguntungkan  selama periode berbunga dan set buah , meskipun panen di beberapa daerah bisa tertunda karena terlambat hujan . Hasil dari dua panen sebelumnya yang rendah karena hujan yang berlebihan selama set buah periode . Lebih dari 85 persen dari produksi robusta . Ekspor kacang diperkirakan rebound 1,4 juta kantong  6,5 juta pada pasokan tersedia lebih tinggi (USDA, 2015) Badan koordinasi penanaman modal  mencatat  bahwa provinsi aceh penghasilaan kopi provinsi aceh menghasilkan 48.282 ton pada tahun 2013 dengan lahan yang telah digunakan berkisar 123.764 Ha pada tahun 2014(BKPM, 2013)

Selama proses pembuatan kopi, menghasilkan residu kopi hitam kecoklatan dengan tingkat kelembapan yang tinggi yang disebut juga dengan limbah kopi (Spent Coffee Ground)( Zuorro dan Lavecchia, 2012; Musatto d.k.k 2011).  Residu – residu ini basanya dibuang hingga akhirnya dikirim ke tempat pembuangan sampah akhir. Namun, residu kopi ini dapat menjadi polutan karena keberadaan kafein, tannin, dan polyphenol yang menjadi toxic alami bagi material dan adanya bahan organik menyebabkan tingginya kebutuhan oksigen untuk mendegradasi residu tersebut(musatto d.k.k 2011; silva d.k.k 1998). 

Secara bersamaan, methana sebagai gas rumah kaca yang lebih berbahaya daripada karbon dioksida akan terbentuk di TPA hingga akhirnya berkontribusi pada pemanasan global (Crumbley,2009). Selanjutnya apabila residu kopi tidak ditangani dan dibiarkan menumpuk begitu saja, fermentasi dari residu dapat menyebabkan kebakaran tiba-tiba, seperti yang telah terjadi dibeberapa tempat penyimpanan(silva d.k.k, 1998). Oleh karena itu, daripada metode penanganan sekali saja, sebuah metode yang berkelanjutan harus lebih dieksplorasi untuk residu kopi, bukan hanya untuk mengurangi ancaman terhadap lingkungan, tetapi juga sebagai solusi untuk mengatur limbah rumah tangga dan limbah miuman(J.H Low d.k. 2013).

Brazil adalah produsen kopi terbesar dunia (Prata dan Olivear, 2007). Proses pembuatan kopinya berkntribusi besar dalam menghasilkan limbah pada masyarakat. Selama produksi kopi instan, hanya 0.33 kg- 0,45kg kg kopi instan yang dihasilkan dari setiap 1 kg biji kopi( Acevado d.k.k,2013), dimana residu yang tertinggal disebut sebagai limbah kopi  yang mencapai hingga 45% dari total keseluruhan produksi di industri kopi(Murthy dan Madhava, 2012). Perusahan makanan dan minuman Netsle yang mempunyai 22 pabrik diseluruh dunia, telah menggunakan limbah kopi sebagai bahan bakar, sehingga sebesar 26,7% energi konvensional yang digunakan telah tergantikan oleh energi terbarukan (J.H Low d.k.k 2010).

Indonesia sebagai negara penghasil kopi terbaik dunia (kemendag, 2015) dan Aceh sebagai daerah pernghasil kopi terbaik yang dijuluki sebagai negeri seribu satu warung kopi, juga perlu memberikan perhatian khusus terhadap penanganan limbah kopi yang dihasilkan. Fenomena menjamurnya warung kopi tak terlepas dari budaya masyarakat sekitar yang mengonsumsi kopi. Banyaknya warung kopi, menggambarkan banyaknya limbah kopi yang dihasilkan setiap harinya dari segelas kopi.

Warung Kupi "Dhapu Kupi"

Antusiasme warga terhadap warung kopi

            Karena beberapa alasan tersebut diharapkan agar ada penanganan lebih lanjut dari pemerintah maupun ahli peneliti untuk bisa mengatasi masalah ini serta perhatian masyarakat terhadap isu global warming yang penyebabnya sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Catatan :

Artikel ini lahir dari latar belakang penelitian kami terhadap upaya memanfaatkan ampas kopi menjadi energi terbarukan.

You May Also Like

0 komentar

Tulis saran dan komentarmu.