Ampas Kopi Bisa Mengurangi Dampak Global Warming
Isu perbincangan dunia saat ini adalah bagaimana mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang menyebabkan emisi rumah kaca dan isu keamanan energi. Hal ini menyebabkan timbulnya ketertarikan untuk menggunakan energi bebasis biomassa(R.C.Saxena, D.K. Adikhari, H.B.Goyal, 2009). Alternatfinya, sumber energi yang dapat diperbarui (reneweble energy source) yang bersumber dari biomassa, menyerap karbon dioksida CO2 yang dihasilkan tanaman selama pertumbuhannya dan berkontribusi dalam pemanasan global (global warming) menjadi pilihan. Sehingga menjadi perbincangan bagaimana menghasilkan energi dari biomassa tanpa mengganggu pasokan makanan yaitu menggunakan limbah biomassa produk, khususnya dari industri makanan dan minuman, menjadi salah satu solusinya.
Kopi adalah jenis minuman yang penting bagi sebagian besar masyarakat di seluruh dunia. Bukan hanya karena kenikmatan konsumen peminum kopi namun juga karena nilai ekonomis bagi negara-negara yang memproduksi dan mengekspor biji kopi (seperti Indonesia). Bagi beberapa orang produk ini, dibuat dari biji tanaman kopi yang dipanggang (tanaman berbunga dari famili Rubiaceae), disebut sebagai “komoditi kedua yang paling banyak diperdagangkan secara legal” dalam sejarah manusia.
Waste coffee ground (WCG) merupakan salah satu potensi sumber
daya yang berlimpah yang dapat dikonversi menjadi energi. Kosumsi kopi dunia
yang terus meningkat selama beberapa dekade terakhir , mencapai kosumsi tahunan
8.8 juta metrik ton dan menjadi menyebabkan sebagian besar organik(USDA, 2014). Telah banyak usaha yang dilakukan
untuk pengolahan limbah kopi, namun kebanyakan usahanya berakhir pada
pembuangan limbah ataupun hingga akhirnya dibakar. Biomassa berdasarkan bahan
bakar karbon dapat dikategorikan oleh beberapa metode pengolahan : i. Bahan
bakar sebagai karbonasi biomassa( fuel as
carbonized biomassa) , ii bahan
bakar sebagai gasifikasi biomassa (fuel as gasified biomassa), dan iii
bahan bakar biomassa tidak diolah ( fuel
as utreated biomassa) .
![]() |
| Ampas Kopi |
Produksi biji kopi di Indonesia diperkirakan
memperoleh 2,2 juta kantong ke rekor 11,0 juta pada cuaca yang
menguntungkan selama periode berbunga
dan set buah , meskipun panen di beberapa daerah bisa tertunda karena terlambat
hujan . Hasil dari dua panen sebelumnya yang rendah karena hujan yang
berlebihan selama set buah periode . Lebih dari 85 persen dari produksi robusta
. Ekspor kacang diperkirakan rebound 1,4 juta kantong 6,5 juta pada pasokan tersedia lebih tinggi (USDA, 2015) Badan koordinasi
penanaman modal mencatat bahwa provinsi aceh penghasilaan kopi
provinsi aceh menghasilkan 48.282 ton pada tahun 2013 dengan lahan yang telah
digunakan berkisar 123.764 Ha pada tahun 2014(BKPM,
2013)
Selama proses pembuatan kopi, menghasilkan residu kopi hitam kecoklatan dengan tingkat kelembapan yang tinggi yang disebut juga dengan limbah kopi (Spent Coffee Ground)( Zuorro dan Lavecchia, 2012; Musatto d.k.k 2011). Residu – residu ini basanya dibuang hingga akhirnya dikirim ke tempat pembuangan sampah akhir. Namun, residu kopi ini dapat menjadi polutan karena keberadaan kafein, tannin, dan polyphenol yang menjadi toxic alami bagi material dan adanya bahan organik menyebabkan tingginya kebutuhan oksigen untuk mendegradasi residu tersebut(musatto d.k.k 2011; silva d.k.k 1998).
Secara bersamaan, methana sebagai gas rumah kaca yang
lebih berbahaya daripada karbon dioksida akan terbentuk di TPA hingga akhirnya
berkontribusi pada pemanasan global (Crumbley,2009). Selanjutnya apabila residu
kopi tidak ditangani dan dibiarkan menumpuk begitu saja, fermentasi dari residu
dapat menyebabkan kebakaran tiba-tiba, seperti yang telah terjadi dibeberapa
tempat penyimpanan(silva d.k.k, 1998). Oleh karena itu, daripada metode
penanganan sekali saja, sebuah metode yang berkelanjutan harus lebih
dieksplorasi untuk residu kopi, bukan hanya untuk mengurangi ancaman terhadap
lingkungan, tetapi juga sebagai solusi untuk mengatur limbah rumah tangga dan
limbah miuman(J.H Low d.k. 2013).
Brazil
adalah produsen kopi terbesar dunia (Prata dan Olivear, 2007). Proses pembuatan
kopinya berkntribusi besar dalam menghasilkan limbah pada masyarakat. Selama
produksi kopi instan, hanya 0.33 kg- 0,45kg kg kopi instan yang dihasilkan dari
setiap 1 kg biji kopi( Acevado d.k.k,2013), dimana residu yang tertinggal
disebut sebagai limbah kopi yang
mencapai hingga 45% dari total keseluruhan produksi di industri kopi(Murthy dan
Madhava, 2012). Perusahan makanan dan minuman Netsle yang mempunyai 22 pabrik
diseluruh dunia, telah menggunakan limbah kopi sebagai bahan bakar, sehingga
sebesar 26,7% energi konvensional yang digunakan telah tergantikan oleh energi terbarukan (J.H Low d.k.k 2010).
Indonesia
sebagai negara penghasil kopi terbaik dunia (kemendag, 2015) dan Aceh sebagai
daerah pernghasil kopi terbaik yang dijuluki sebagai negeri seribu satu warung
kopi, juga perlu memberikan perhatian khusus terhadap penanganan limbah kopi
yang dihasilkan. Fenomena menjamurnya warung kopi tak terlepas dari budaya
masyarakat sekitar yang mengonsumsi kopi. Banyaknya warung kopi, menggambarkan
banyaknya limbah kopi yang dihasilkan setiap harinya dari segelas kopi.
![]() |
| Warung Kupi "Dhapu Kupi" |
![]() |
| Antusiasme warga terhadap warung kopi |
Karena beberapa alasan tersebut diharapkan agar ada penanganan lebih lanjut dari pemerintah maupun ahli peneliti untuk bisa mengatasi masalah ini serta perhatian masyarakat terhadap isu global warming yang penyebabnya sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Catatan :
Artikel ini lahir dari latar belakang penelitian kami terhadap upaya memanfaatkan ampas kopi menjadi energi terbarukan.





0 komentar
Tulis saran dan komentarmu.