facebook twitter instagram pinterest cookpad linkedin

Shafiqa Ayyara

A Lifestyle Blog

  • Home
  • Thought
  • Reviews
    • Book
    • Food
    • Movie
    • Place
    • Application
  • Recipe
  • Contact
            Bener Meriah dengan julukannya Negeri di Atas Awan benarlah sebuah kota yang berada di tengah – tengah pegunungan. Pertama kali menginjakkan kaki di dataran tinggi Gayo ini, yang terlintas di benak saya adalah, daerah ini tidak sedingin gosipnya. Mungkin disebabkan daerah penempatan kami, Kecamatan Pintu Rime Gayo, masih berbatasan dengan Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Jika siang hari, suhu di daerah ini masih berkisar antara 22-24 derajat celsius. Usai acara penyambutan di kantor camat, kami menempuh perjalanan setengah jam lagi ke atas untuk sampai di desa yang sebulan ke depan akan menjadi rumah kami, Blang Ara.
Desa Blang Ara terletak di jalan lintas Bireuen – Takengon KM 58 dengan pusat kampung berada sedikit di atas bukit. Jika kita berangkat dari Banda Aceh, akan membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam untuk sampai ke desa ini. Mayoritas penduduk di desa ini adalah petani kopi, jadi jangan heran apabila sampai di sana, pohon kopi sudah seperti tanaman hias yang memenuhi pekarangan rumah warga. Letak desa yang berada di atas bukit membuat kita harus sedikit mendaki saat berjalan naik. Bahkan jika turun, kebanyakan masyarakat akan mematikan mesin motor lalu meluncur dari atas. Walaupun begitu, kebiasaan tersebut tidak membuat mereka lupa menyapa atau sekedar senyum saat berpapasan dengan orang di jalan.
Desa ini memiliki satu jalan utama yang sebagian di aspal kasar dan sebagian lagi di semen. Di sekeliling jalan kita bisa melihat banyak sekali tumbuh-tumbuhan liar yang memenuhi badan jalan. Mulai dari bunga-bunga cantik hingga semak belukar yang tertata rapi. Jika tidak karena lelah mendaki, saya pasti lebih memilih untuk jalan menyusuri desa sambil menikmati pemandangan. Di desa ini kita bisa melihat bunga dan tumbuhan yang tidak pernah kita lihat di daerah pesisir.
            Selain itu, desa ini juga terkenal dengan hasil pertaniannya yaitu buah alpukat dan durian. Sebagian besar alpukat di desa ini sudah dipesan oleh para pembeli jauh sebelum hari panen. “Sekarang susah kita menikmati alpukat matang, karena sebelum matang para pembeli sudah datang untuk memetik alpukat.” ungkap salah satu warga.
Sehari-hari Blang Ara adalah desa yang cukup sunyi, warga lebih banyak beraktivitas di kebun. Namun ada satu hari dimana semua warga berkumpul, hari Jumat. Pada hari ini ibu-ibu akan menghadiri pengajian rutin sedang bapak-bapak akan melakukan gotong royong. Banyak kegiatan pembangunan yang sedang berjalan di desa ini dan sebagian besar dikerjakan langsung oleh warga desa seperti pembuatan drainase, renovasi masjid, dan bak air penampungan.
Sumber air di Desa Blang Ara berasal dari mata air pegunungan, di tampung pada sebuah bak penampungan besar yang terletak tidak jauh dari sumbernya. Kemudian air tersebut di alirkan ke sebuah bak kecil yang terletak di tengah desa sebelum kemudian di alirkan ke rumah masing-masing warga menggunakan pipa. Karena langsung berasal dari gunung, air di daerah tersebut sangat jernih, sejuk dan segar.

Desa Blang Ara, salah satu desa di Kabupaten Bener Meriah. Sebuah desa yang masih sangat terjaga keindahan alamnya. Di sana kita disajikan dengan berbagai macam kekayaan alam yang kini perlahan hilang termakan  zaman. Sebulan di sana, saya bisa merasakan keindahan alam sebagai bukti kuasa Tuhan.

April, 24 2017
Telah diposting di www.acehraya.com
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Ini bukan kali pertama kami menginjakkan kaki ke Desa Blang Ara, tapi ini akan menjadi hari pertama dari total 30 hari pengabdian yang akan kami habiskan di sini. Seseorang pernah berkata kepada saya, “Sejatinya hidup adalah sebuah pengabdian. Mengabdi kepada Allah, orangtua, suami, dan hal lain yang kita cintai, salah satunya negeri.” Itulah semangat yang kami bawa, mari mengabdi, memperbaiki negeri. Bermodalkan niat mengabdi dan dua motor untuk 7 orang, kami menempuh jarak kurang lebih 2 km dari tempat tinggal untuk sampai ke desa. Desa sehangat mentari.
“Sepi ya.” ucap Winda. “Iya, sejauh mata memandang tidak ada orang sama sekali.” sahutku. Kami naik lebih atas, ya posisi desa ini menanjak dengan jalan semennya yang penuh pasir. Di sekitar jalan tampak pohon-pohon kopi yang mengiringi langkah kami. Sesekali tampak pohon markisa dan pohon alpukat menyapa. Desa ini terkenal dengan kekayaan hasil kebun berupa kopi, markisa, dan alpukat. Tidak ayal ketika pulang nanti masing-masing dari kami akan menyandang gelar ‘Juragan Alpukat’. Tapi faktanya anugrah itu tidak hanya ada di desa kami. hampir seluruh desa di Kabupaten Bener Meriah memiliki hal yang sama, tanah subur yang ditumbuhi aneka buah-buahan. Kopi, salah satu yang paling terkenal di daerah itu.
“Orang-orang di sini mayoritas bekerja sebagai pekebun, Dek. Jadi ya begini, sehari-hari desa sangat sepi.” ujar banta, atau istilah resminya sekretaris desa. Kami hanya saling pandang dan mengangguk sambil menyambut prasangka, ini akan menjadi 30 hari pengabdian yang sulit. Menjalankan program di desa tanpa warga? Yang benar saja, pikir saya.
Ternyata prasangka kami salah. Jumat minggu kedua kami ikut menghadiri pengajian rutin ibu-ibu di Balai Pengajian yang terletak di halaman mesjid. Kebetulan pula hari itu diadakan gotong royong mingguan. Jadilah para wanita mengikuti pengajian sedang lelaki gotong royong bersama bapak-bapak. Tema kajian hari itu adalah tentang tauhid. Semua warga yang hadir serius mendengarkan materi yang disampaikan oleh ustadz yang ternyata langsung datang dari kecamatan. Usai kajian barulah kami yang sedari tadi duduk, dipersilahkan untuk memperkenalkan diri. Hari itu desa yang biasa sepi sangat ramai. Dan hari itu pula istilah ‘Desa Sehangat Mentari’ muncul. Ya, warga desa yang sibuk itu sangat ramah. Sambutan mereka kepada kami menepis hawa dingin 19 derajat celsius. Ragam pertanyaan terkait program menunjukkan antusiasme masyarakat atasnya.
Ketika satu persatu kami memperkenalkan diri dan program yang akan kami jalankan, mereka begitu antusias. Saya teringat salah satu ucapan Ibu Reje yang membuat kami sangat bahagia dan bangga, “Selagi adik-adik mahasiswa berada di sini, kita harus banyak-banyak belajar dari mereka. Mereka mendapat ilmu itu di bangku kuliah selama hampir 4 tahun. Kita seharusnya bangga mereka membagikan ilmu tersebut kepada kita. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan ini.” kami merasa terharu dan berharap bisa memenuhi harapan mereka. Ketika dipersilahkan mengucapkan beberapa kata, saya hanya bisa berkata, “Terima kasih sebesar-besarnya atas sambutan hangat yang membuat terharu, kami sangat bahagia. Harapan kami sederhana, setidaknya ketika nanti kami pulang ada sesuatu yang kami tinggalkan dan bermanfaat bagi desa.” ucap saya.
Hari demi hari terlewati hingga hari ke-30 tinggal beberapa jam lagi. Kami sedang mempersiapkan perpisahaan yang cukup dadakan namun terasa berkesan, karena di hari itu, hari yang senyatanya bukan hari libur, desa terutama Posko KKN kami ramai dihadiri warga. Kami tidak menyangka ditengah kesibukan menjalankan kewajiban sebagai pekebun, warga tetap datang ke acara perpisahan, membawa senyum haru yang akan menjadi kenangan tak terlupakan. “Terima kasih untuk adik-adik semua yang sudah membawakan banyak perubahan bagi desa kami. Seperti PAUD yang semakin cantik, anak-anak yang semakin aktif. Mereka sangat semangat untuk datang ke sini belajar dengan kalian.” ujar banta. Di lain sisi Ibu Imam pun ikut memberi kata-kata perpisahan dengan deru air mata yang membuat terharu seisi ruangan. Saya juga ikut menangis karenanya. Saya teringat pernah membaca sebuah kutipan indah, “Tuhan menciptakan perpisahan agar kita bisa memaknai sebuah pertemuan.” Dan di sini pertemuan kami menjadi sangat berarti.
Di Desa Blang Ara, desa sehangat mentari. Tempatnya dingin, kadang bisa mencapai suhu 17 derajat celsius dan untuk suhu terpanas 21 derajat celsius. Jika sedang hujan, seluruh tempat tertutupi kabut. Sehari-harinya sepi, seperti biasa. Namun warganya begitu hangat, ramah, dan menghargai sesama.
April, 24 2017
Tulisan pengalaman di webblog KKN
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

Shafiqa Ayyara


Personal Blogger | Author | Indonesia
Cooking | Writing | Programming
Books | Movies | Noodles

Blog Archive

  • ►  2021 (1)
    • ►  July 2021 (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  December 2019 (1)
    • ►  May 2019 (1)
  • ▼  2017 (2)
    • ▼  April 2017 (2)
      • Pesona Alam Desa Blang Ara, Bener Meriah
      • KKN : Desa Sehangat Mentari
  • ►  2016 (4)
    • ►  July 2016 (1)
    • ►  March 2016 (1)
    • ►  February 2016 (2)

Social Media

  • facebook
  • twitter
  • pinterest
  • instagram
  • linkedin
  • cookpad

Labels

Artikel Chemical Engineering Opini Place Review thought

Friends

Visitor

Created with by BeautyTemplates | Distributed by Blogger