Bener Meriah
dengan julukannya Negeri di Atas Awan benarlah sebuah kota yang berada di
tengah – tengah pegunungan. Pertama kali menginjakkan kaki di dataran tinggi
Gayo ini, yang terlintas di
benak saya adalah, daerah ini tidak sedingin
gosipnya. Mungkin disebabkan daerah penempatan kami, Kecamatan Pintu Rime
Gayo, masih berbatasan dengan Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Jika siang
hari, suhu di daerah ini masih berkisar antara 22-24 derajat celsius. Usai
acara penyambutan di kantor camat, kami menempuh perjalanan setengah jam lagi
ke atas untuk sampai di desa yang sebulan ke depan akan menjadi rumah kami,
Blang Ara.
Desa Blang Ara
terletak di jalan lintas Bireuen – Takengon KM 58 dengan pusat kampung berada sedikit di
atas bukit. Jika kita berangkat dari Banda Aceh, akan membutuhkan waktu sekitar
6-7 jam untuk sampai ke desa ini. Mayoritas penduduk di desa ini adalah petani
kopi, jadi jangan heran apabila sampai di sana, pohon kopi sudah seperti
tanaman hias yang memenuhi pekarangan rumah warga. Letak desa yang berada di
atas bukit membuat kita harus sedikit
mendaki saat berjalan naik. Bahkan jika turun, kebanyakan masyarakat akan
mematikan mesin motor lalu meluncur dari atas. Walaupun begitu, kebiasaan tersebut tidak membuat mereka lupa menyapa
atau sekedar senyum saat berpapasan dengan orang di jalan.
Desa
ini memiliki satu jalan utama yang sebagian di aspal
kasar dan sebagian lagi di semen.
Di sekeliling jalan kita bisa melihat banyak sekali
tumbuh-tumbuhan liar yang memenuhi badan jalan. Mulai dari bunga-bunga cantik
hingga semak belukar yang tertata rapi. Jika tidak karena lelah mendaki, saya
pasti lebih memilih untuk jalan menyusuri desa sambil menikmati pemandangan. Di
desa ini kita bisa melihat bunga dan tumbuhan yang tidak pernah kita lihat di
daerah pesisir.
Selain itu, desa ini juga terkenal
dengan hasil pertaniannya yaitu buah alpukat dan durian. Sebagian besar alpukat
di desa ini sudah dipesan oleh para pembeli jauh sebelum hari panen. “Sekarang
susah kita menikmati alpukat matang, karena sebelum matang para pembeli sudah
datang untuk memetik alpukat.” ungkap salah satu warga.
Sehari-hari
Blang Ara adalah desa yang cukup sunyi, warga lebih banyak beraktivitas di
kebun. Namun ada satu hari dimana semua warga berkumpul, hari Jumat. Pada hari
ini ibu-ibu akan menghadiri pengajian rutin sedang bapak-bapak akan melakukan
gotong royong. Banyak kegiatan pembangunan
yang sedang berjalan di desa ini dan sebagian besar dikerjakan langsung oleh
warga desa seperti pembuatan drainase, renovasi masjid, dan bak air penampungan.
Sumber air di Desa Blang Ara berasal dari mata air
pegunungan, di tampung pada sebuah bak penampungan besar yang terletak tidak
jauh dari sumbernya. Kemudian air tersebut di alirkan ke sebuah bak kecil yang
terletak di tengah desa sebelum kemudian di alirkan ke rumah masing-masing
warga menggunakan pipa. Karena langsung berasal dari gunung, air di daerah
tersebut sangat jernih, sejuk dan segar.
Desa
Blang Ara, salah satu desa di Kabupaten Bener Meriah. Sebuah desa yang masih
sangat terjaga keindahan alamnya. Di sana kita disajikan dengan berbagai macam
kekayaan alam yang kini perlahan hilang termakan zaman. Sebulan di sana,
saya bisa merasakan keindahan
alam sebagai bukti kuasa Tuhan.
April, 24 2017
Telah diposting di www.acehraya.com
April, 24 2017
Telah diposting di www.acehraya.com
