Menikah saat Pandemi Covid-19 menjadi ujian dari segala sisi. Mulai dari melatih kesabaran, meningkatkan rasa ikhlas, belajar untuk lebih realistis soal finansial, dan banyak ujian lain yang membuatku terus bertumbuh sepanjang mempersiapkan hari pernikahan.
Mulanya, saat jadwal akad nikah kurang dari dua minggu lagi, semua persiapan sudah selesai dan hanya tinggal menunggu hari. Saat itu di Provinsi Aceh, pandemi Covid-19 belum terlalu marak dan tidak ada korban yang teridentifikasi. Di ibu kota sendiri—Jakarta, hanya beberapa kasus yang baru diketahui. Intinya saat itu keadaan masih aman dan berjalan seperti biasanya. Namun beberapa hari kemudian, muncul sebuah berita bahwa seorang masyarakat yang terkonfirmasi pasien Covid-19 meninggal dunia di RS Zainal Abidin Banda Aceh. Gemparlah seluruh kota bahkan hingga ke pelosok-pelosok desa. Semua kegiatan berkumpul dibubarkan oleh pemerintah, jam malam diberlakukan, militer juga ikut dikerahkan untuk mengawasi kebijakan PSBB, barangkali bisa diartikan sebagai lockdown dengan versi yang lebih ringan.
Keluargaku dan calon suami saat itu menjadi ragu untuk melanjutkan acara pernikahan yang jelas-jelas harus batal. Vendor katering tentu tidak mau bekerja dan melanggar peraturan, kami juga tidak ingin jika di tengah acara tiba-tiba harus dibubarkan. Setelah melalui diskusi panjang, kedua belah pihak memutuskan hanya mengadakan akad nikah sedang resepsi ditunda sampai keadaan menjadi lebih baik. Hari berjalan begitu cepat, banyak hal yang kami lewati, ujian-ujian pra-pernikahan yang datang silih berganti.
Tapi alhamdulillah 'ala kulli haal, dengan izin Allah pada April 2020, saat Pandemi Covid-19 sedang bergejolak di Indonesia bahkan dunia, statusku berubah dari gadis karir menjadi ibu rumah tangga. Tidak mudah menghadapi masa transisi perubahan status tersebut, banyak hal yang mendorongku harus beradaptasi dengan keadaan. Karena hal itu juga aku memutuskan untuk kembali menulis blog selain aktif menulis di sosial media.
"Sebab menulis adalah caraku melegakan diri."—@shafiqaayyara
Tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi ibu rumah tangga tidak semudah kelihatannya. Aku diharuskan untuk memiliki skill mengatur waktu, keuangan keluarga, gejolak emosi, dan masih banyak lagi yang tidak terpikirkan sama sekali saat masih single dulu.
"Menulis adalah caraku meluapkan perasaan, meringankan beban pikiran."—@shafiqaayyara
Setelah menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga selama masa pandemi, beberapa hal yang menurutku sangat penting untuk dimiliki terutama bagi seorang perempuan yang sepakat untuk mengabdi di dalam rumah :
- Skill, apapun itu. Apakah memasak, menulis, berdagang, semua akan kita butuhkan. Bukan hanya tentang agar bisa menghasilkan uang, jauh daripada itu adalah agar kita tidak merasa bosan! Sebab sepengalamanku pribadi, ketika aku stuck di dalam rumah, sendirian saat suami bekerja, energi negatif akan mendatangiku yang tentu saja dampaknya akan sangat merugikan. Jadi, untuk para calon ibu rumah tangga, sharpen your skill, now!
- Berdamai dengan diri sendiri. Kedengarannya klise karena sudah sering kita dapatkan dari akun-akun motivasi di instagram. Tapi poin ini benar-benar harus kita miliki. Sebab akan ada masanya kita merasa tidak produktif, tidak berpenghasilan, merasa tidak berdaya, membandingkan diri dengan orang lain dan merasa marah pada diri yang sekarang. Poin ini sangat penting, sebab ketika kita berdamai dengan segala kekurangan yang ada dalam diri, kita bisa menerima keadaan kita bagaimanapun adanya. Kita juga jadi semakin lebih mudah mencintai diri sendiri. Moms! Ayo loving your self first, agar kita bisa lebih bahagia dalam mencintai keluarga.
- Komunikasi, baik dengan pasangan juga kedua keluarga kita. Ini adalah poin penting untuk mengurangi konflik dalam rumah tangga. Dan akan menjadi pe-er seumur hidup sepertinya, he-he.
- Mengatur keuangan. Ini dalah poin yang sampai lebih setahun pernikahan, aku belum lulus sama sekali. Sejujurnya sebelum menikah, aku adalah tipe perempuan yang sangat boros, terlebih soal makanan. Jadi ingin mengulang sebuah status whatsapp teman, "Ya Allah, aku suka jajan, suka makan. Tolong mudahkan rezekiku."
- Hidup sehat. Poin penting lainnya untuk yang berkeinginan langsung diberi momongan setelah menikah. Aku pernah memiliki riwayat keguguran saat hamil pertama kali, tidak tahu penyebabnya apa, dokter hanya mengatakan bahwa kejadian itu wajar dialami beberapa pasangan. Hingga saat ini kami masih berikhtiar untuk Allah percayakan diberi amanah. Salah satunya dengan mengurangi makanan tidak sehat. Semoga untuk para pejuang garis dua di luar sana, Allah berikan ketabahan dan kesabaran yang berlimpah!

